LINK Cerita Asli KKN di Desa Penari Lengkap Versi Widya dan Nur

LINK Cerita Asli KKN di Desa Penari Lengkap Versi Widya dan Nur

Media.Infosolution.biz – Berikut kisah lengkap KKN di Kampung Penari, kisah mistis yang kini sedang difilmkan.

Film KKN di Desa Penari sukses menarik perhatian penonton.

Sejak dirilis di bioskop pada 30 April 2022, film ini telah ditonton lebih dari 3,7 juta penonton.

Jumlah penonton diketahui dari unggahan Instagram @manojpunjaimd milik Manoj Punjabi, CEO MD Pictures dan produser film KKN Di Desa Penari.

Setelah dijadikan film, tak sedikit yang kini mencari kisah asli KKN di Kampung Penari.

Ceri KKN di Kampung Penari ini memposting akun SimpleMan, @SimpleM81378523 pada 20 Juni 2019.

Menurut SimpleMan, kisah yang ia unggah adalah kisah nyata di sebuah desa di Jawa Timur pada tahun 2009.

Cerita KKN di Kampung Menari karya SimpleMan ini dibuat dalam dua versi yaitu versi Widya dan versi Nur.

Berikut kisah lengkap KKN di Kampung Menari yang dikutip dari postingan SimpleMan:

Versi Widya

LINK Cerita Asli KKN di Desa Penari Lengkap Versi Widya dan Nur

“Malam ini, aku akan menceritakan sebuah kisah dari seseorang yang menurutku spesial. Kenapa? Karena aku sedikit tidak yakin apakah aku bisa menceritakan setiap detail dari apa yang dia alami.

Sebuah cerita tentang pengalamannya selama KKN, di sebuah desa penari.

Sebelum saya memulai semuanya. Saya ingin mengatakan beberapa hal.

Sebelumnya penulis tidak mendapatkan izin untuk memposting cerita ini dari pemilik cerita, karena ia memiliki ketakutannya sendiri terhadap beberapa hal, termasuk kampus dan desa tempat KKN diadakan.

Namun, karena menurut penulis cerita ini memiliki banyak pelajaran yang bisa dipetik terlepas dari pengalaman pemilik cerita akhir, kami sepakat bahwa, segala sesuatu yang berhubungan dengan cerita ini, termasuk nama kampus, fakultas, desa dan setting. cerita, akan dijaga kerahasiaannya.

Jadi bagi anda yang sedang membaca cerita ini, yang mungkin mengetahui, atau merasa familiar dengan beberapa tempat ini yang walaupun disamarkan, dimohon untuk tetap diam, atau merahasiakan semuanya, karena ini adalah janji sang pencipta. pengarang dan pemilik cerita.

Di penghujung tahun 2009, seluruh anak angkatan 2005/06 sudah hampir memenuhi syarat mengikuti KKN yang dilaksanakan di beberapa desa sebagai syarat lanjutan untuk tugas skripsi.

Dari semua wajah antusias di kampus, satu orang tampak menyendiri. Widya, begitu anak-anak lain memanggilnya

Dia tampak begitu gugup, terisolasi, menyendiri, sehingga panggilan telepon itu menyadarkannya dari lamunannya.

“I’m wes by nggon KKN’e,” (Saya sudah dapat tempat untuk KKN) kata ujung telepon yang lain. Wajah murung berubah menjadi senyum penuh harapan.

“Nang ndi?” (di mana?)

“Nang kota B, desa gok di kabupaten K***li**, saya proker, tidak ada jaminan, saya merasa ingin melakukan KKN” (di kota B, di sebuah desa di distrik K******* , ada banyak proyek pekerjaan yang harus dilakukan , tempatnya cocok untuk KKN kami).

Saat itu, Widya langsung mengajukan proposal KKN. Semua persyaratan telah terpenuhi, kecuali kelengkapan anggota pada setiap kelompok yang harus melibatkan minimal 2 fakultas berbeda dengan minimal 6 anggota.

“Tenang,” kata Ayu, wanita yang tempo hari memberi kabar lokasi KKN yang dia dan kakaknya amati. Benar saja, tidak lama kemudian Bima dan Nur muncul, katanya kelengkapan 6 anggota yang melibatkan 2 fakultas sudah disetujui.

“Sopo nyanyi ikut Nur (yang udah gabung Nur)?” tanya Ayu,

“Temanku kating, 2 generasi di atas kita, yang lain, temannya.” Ini melegakan, pikir Widya.

Surat keputusan KKN semuanya telah disetujui, terdiri dari 2 fakultas dengan program kerja kelompok dan individu, untuk pengabdian masyarakat yang akan dilaksanakan dalam waktu kurang lebih 6 minggu.

Tinggal menunggu, pembekalan sebelum keberangkatan. Jauh sebelum malam pembekalan, Widya berpamitan kepada orang tuanya tentang progres KKN yang harus ditempuhnya. Saat orang tua Widya menanyakan di mana proyek KKN mereka, mereka bisa melihat ekspresi ketidaksetujuan dari ekspresi ibunya.

“Bukan onok nggon liyo, kamu harus ke Kota B (tidak ada tempat lain, kenapa harus Kota B)?” wajah ibunya menegang. “Nggok harus nggone Alas tok? Itu biasa di nggoni gawe menungso (itu bukan semua hutan? Tidak baik untuk ditinggali manusia).

Namun, setelah Widya menjelaskan bahwa pengamatan sebelumnya telah dilakukan, wajah ibunya melunak.

“Saya tidak enak badan, kenapa tidak bisa ditunda satu tahun lagi (saya tidak enak badan, tidak bisakah ditunda satu tahun lagi).”

Widya enggan melakukannya, sehingga meski sulit, orang tuanya terpaksa menyetujuinya.

Hari pembekalan sebelum keberangkatan. Widya, Ayu, Bima dan Nur, mata mereka melihat sekeliling, khawatir, 2 orang yang seharusnya mengikuti pembekalan belum juga melihat pangkal hidung mereka, hingga menjelang siang, 2 orang muncul, menyapa dan memperkenalkan diri di depan mereka.

…..

Catatan: Karena keterbatasan karakter, Anda dapat mengakses detail lebih lanjut di sini atau melalui LINK INI

Versi Nur

LINK Cerita Asli KKN di Desa Penari Lengkap Versi Widya dan Nur

Nur segera merapikan tempat tidurnya, hidup merantau demi menyelesaikan pendidikan di universitas yang diimpikannya sejak kecil, kini tinggal menunggu bulan demi bulan. hanya perlu menyelesaikan tugas terakhir yang salah satunya adalah tugas pengabdian kepada masyarakat

orang lebih mengenalnya dengan KKN (kuliah kerja nyata).

Malam ini, Ayu, seorang rekan di fakultas, baru saja berbicara tentang rencananya, bahwa dia sudah memiliki tempat yang cocok untuk KKN mereka, dan bahwa Nur akan berpartisipasi dalam pengenalan desa.

Saat Nur sedang mempersiapkan keberangkatannya malam ini, ia teringat harus segera memberitahu teman-temannya yang lain tentang pengamatan ini, karena ia tahu bahwa program KKN mereka harus diselesaikan bersama. janji, sebagai sahabat yang harus dilalui bersama.

“Wid, nang ndi?”

(Lebar, di mana?)

“Nang omah Nur, yo opo, wes by nggon KKN’e” (di rumah Nur gimana, udah dapat tempat KKN)

“Aku kacau Wid, aku bodoh dengan Ayu, doakan aku” (Malam ini Wid, aku pergi dengan Ayu, doakan aku)

“Huh. Kuharap ini acc.”

“Amin” jawab Ayu sambil mematikan teleponnya

Nur menjawab matikan telepon*

Detik demi detik berlalu, tanpa disadari malam telah tiba, Nur melihat seekor kijang mendekat. dari dalam, keluar sahabatnya Ayu, di belakangnya ada sosok laki-laki.

mungkin itu Mas Ilham, adik Ayu. pikir Nur dalam hati.

“Ayo, budal” kata Ayu sambil membawa Nur untuk segera masuk ke dalam mobil.

Mas Ilham membawa barang-barang Nur, lalu mobil mulai berangkat.

“Oh tidak Yu” (jauh tidak yu) tanya Nur,

“Paling lama 4 hingga 6 jam, tergantung apakah Anda ngebut” (paling lama 4 hingga 6 jam, tergantung apakah Anda ngebut atau tidak)

“Jelas, desanya rapi, saya tidak jamin, masih alami. Intinya cocok untuk bekerja sama dengan wingi” (jelas, desa itu bagus, tidak dijamin, masih alami, pas untuk program kerja yang kita susun kemarin)

Ayu terlihat sangat antusias, sedangkan Nur merasa tidak nyaman.

Banyak hal yang membuat Nur ragu, salah satunya soal lokasi dan lain sebagainya. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya Nur pergi ke arah etan (Timur) sebagai wanita yang lahir di daerah kulon (barat) dia sering mendengar desas-desus tentang arah etan, salah satunya mistiknya.

Mistik, bukanlah hal baru bagi Nur, bahkan ia sudah sarat dengan berbagai pengalaman tentangnya, selama menempuh pendidikan sebagai santriwati, mengabaikan perasaan tidak bisa dilakukan secara kebetulan saja. dan malam ini, Nur tidak pernah merasa seburuk ini.

tentu saja. Perasaan tidak enak itu, terus bertambah seiring dengan mobil yang terus melaju, salah satu pertanda buruknya adalah ketika, sebelum memasuki kota J yang tujuannya adalah kota B, Nur melihat seorang lelaki tua meminta uang di perempatan, sepertinya dia melihat Nur. lihat, prihatin.

Tak hanya itu, sang kakek menggelengkan kepalanya, seolah memberi isyarat kepada Nur yang berada di dalam mobil, untuk menghentikan niatnya.

Namun Nur tidak bisa berspekulasi, ada tema lain yang menunggu kabar baik dari pantauan hari ini.

hujan tiba-tiba turun, tanpa terasa, perjalanan ini memakan waktu lebih dari 4 jam. Mobil berhenti di rest area yang sepi, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan, Nur yang melihat hutan yang gelap memanggil namanya.

“Hutan. Desa ini di dalam hutan,” kata Mas Ilham.

Nur tidak berkomentar, ia hanya berdiri di samping mobil yang berhenti di tepi jalan hutan ini. sebuah hutan yang dikenal oleh seluruh masyarakat Jawa Timur.

Hutan D*********, tidak lama, lampu berkedip dan suara sepeda motor terdengar. Mas Ilham sambil melambaikan tangan.

“iku wong deso’ne, melbu’ne harus naik sepeda motor, jangan khawatir menumpuk mobil” (itu orang desa, harus naik sepeda motor, mobil tidak bisa masuk karena)

Nur dan Ayu mengangguk, tanda mereka mengerti. tanpa pikir panjang, Nur sudah duduk di kursi belakang, dan mereka pergi

memasuki jalan setapak, dengan tanah yang tidak rata, membuat Nur harus berpegangan pada jaket ayahnya yang menggendongnya, tanah yang masih lembab, ditambah embun fajar terlihat di sana-sini, malu-malu memenuhi pepohonan yang rimbun. Nur, melihat sosok, seorang wanita. dia menari di atas batu

Kilatan di matanya, dengan wajah yang cantik dan rupawan, Sang Wanita, tersenyum pada tamu yang ditunggu-tunggunya.

melihat dari balik jalan lain, Nur menemukan, wanita itu telah menghilang, tanpa jejak. dia tahu, dia telah disambut dengan apa pun itu.

Memasuki desa, Mas Ilham memeluk seorang pria yang mungkin seumuran dengan ayahnya di rumah.

pria itu ramah, dan tersenyum, menyambut tangannya, Nur mendengar pria itu memperkenalkan diri.

“kulo, Prabu” (saya Prabu)

“Sepurane Ham, saya bingung, di sini kita tahu Suwe, tetapi desa ini tidak tahu bagaimana melakukan kegiatan KKN” (Maaf Ham, saya tahu, kami sudah lama saling kenal, tetapi ini desa belum pernah digunakan untuk kegiatan KKN)

“Tolong, mas,” kata Mas Ilham, “tolong, saudaraku,”

Suasana saat itu tegang.

“Bukan, itu bukan ISOK HAM,” kata Pak Prabu sambil menekan Mas Ilham dengan ekspresi yang tak terduga.

“Maaf pak, saya minta maaf, saya minta maaf, saya akan memperjuangkan sikap sepuluh mriki, mboten neko-neko, tolong pak”

(Saya tidak akan aneh-aneh. Tolong pak) kata Ayu, matanya berkaca-kaca, dia belum pernah melihat Ayu setangguh ini, ekspresi wajah Pak Prabu yang sebelumnya mengeras, sekarang melunak.

“Piro nyanyi dek KKN?” (berapa KKNnya?)

Ayu menjawab dengan semangat. “6 pak”

hari pun berakhir, dengan persetujuan Pak Prabu dan tentunya masyarakat sekitar, sebelum meninggalkan tempat, Ayu dan Nur berkeliling memeriksa desa sebentar.

disana dia sudah tahu program kerja apa yang akan menjadi wacana mereka, salah satunya kamar mandi dengan air sumur

Dia tahu bahwa orang hanya mendapat akses air dari sungai, jadi dia berpikir bahwa sumur itu mungkin lebih efisien. Saat mereka sedang mendiskusikan berbagai proyek pekerjaan di masa depan, Nur terdiam saat melihat sebuah batu tertutup kain merah.

di bawahnya, ada sesajen lengkap dengan aroma kemenyan.

di atasnya, berdiri sosok hitam, dengan mata sipit, bersinar merah. meskipun siang bolong, Nur bisa melihat, kulitnya ditutupi bulu, dan tanduk kerbau, mata mereka saling berpandangan, sebelum Nur memberi tahu Ayu bahwa mereka harus pulang.

“Lapor ke Nur, kok kamu laki-laki gopoh” (kenapa Nur, kenapa kamu buru-buru pergi)

“Maaf, Ilham, kami menyukainya,” kata Nur.

“Yo wes, ayo” sambut Ayu.

mereka segera naik sepeda motor, sebelum meninggalkan desa. sosok yang dilihat Nur, apalagi kalau bukan Genderuwo.

“Nur, jak’en Bima, yo, ambek Widya, engkok ambek kenalanku, kating” (Nur, ajak Bima, sama Widya, sama kenalanku Kating) kata Ayu di dalam mobil.

“Bima, ayo kita tanya cah kui” (kenapa kamu mengajak Bima)

“ben rame, kan wes know suwe” (biar rame, kan udah kenal lama) kata Ayu

“Mengapa kru Anda tidak bernyanyi?” (kenapa tidak diundang saja) kata Nur.

“Awakmu adalah biyen sak pondok’an, wes luwih suwe tahu” (kamu pernah berada di pondok yang sama, jadi kamu sudah lama kenal) “kepala sekolah jak en arek iku yo” (bawa saja anak itu bersamamu )

“yo wes, iyo” Nur pun mengalah.

“Jangan panggil Widya, Ben cepat dapat anggukan. Usulan sementara kampus Gurung merilis daftar KKN, buruk jika kampus Wes melepaskan, sedangkan Wes di bawah KKN dewe” (agar Widya tidak panggilan, agar proposal dapat dibuat dengan cepat)

(Sementara kampus belum membuat daftar KKN, bisa jadi buruk jika kampus sudah membuat daftar, sementara kita sudah punya tempat untuk KKN)

perlahan, mobil meninggalkan jalan hutan. Nur dan Ayu, kembali ke kota mereka, mempersiapkan segalanya, sebelum mereka kembali nanti.

Sore itu, Nur melihat Widya dan Ayu sehari sebelum keberangkatan KKN mereka.

….

Catatan: Karena keterbatasan karakter, Anda dapat mengakses detail lebih lanjut di sini atau melalui LINK INI

Gallery for LINK Cerita Asli KKN di Desa Penari Lengkap Versi Widya dan Nur

Leave a Reply

Your email address will not be published.